in my old age, please understand and have patience if due to my eye problem if. i break some plates or spilled some soup on the table, don't get mad of me
old people are sensitive. i pity myself everytime raise your voice on me. when my ears become hard of hearing and i can't understand you
please don't call me deaf. instead try to repeat or if you can just write it down so i will understand. please be patient son. i'm old
when my knees become weak, just bear with me and i hope you will help me to stand up. the same why when i was trying to teach you how to walk.
have patience with me when i sound like a broken record . just listen please. don't make fun of me. i hope you won't get tired of listening
do you remember when you were young? when there was something you wanted, you would repeatedly ask me until you got if. i had patience and never get tired of hearing your voice
i am really if i have the odor of an old person. please don't force me to shower. my body is weak, and i get sick or fall easily. please don't be afraid to be near me.
do you remember when you were young? i did not get tired in cashing you around when you did not want to shower.
just be patient when sometimes if i am being difficult. it is because of old age. when you get old you will understand
if you have a little time i want us to sit down and talk even for shorter period of time. i get bored at home because iam here all day and have no want to talk to
i know you're busy at work, but i want you to know that i missed you and your chat. although sometime i know you are not interested in all my stories
do you remember son were you when young? i listened to all you stories, even when you could not pronounce the words properly.
when the time come that i get sick bedridden, please don't get tired of taking care of me.
and have patience with me if i do get an accident on my bed. bear with me in later years becaus iam not going to last for long
when the time comes, please hold my hands and give me strength to face death. and don't worry son because i will close my eyes and pray to God to bless you and protect you every minutes of your life
BECAUSE YOU WERE A GOOD SON
Rabu, 09 November 2011
Selasa, 01 November 2011
sepenggal cerita sedih
Namaku Indah, orang di sekitar perumahanku biasa memanggilku Ibu Indah. Ya, karena umurku yang memang sudah tua. Aku berusia 52 tahun, dan aku adalah seorang Single Parent. Suamiku Risyad, sudah lama meninggal, dia meninggal karena kanker paru-paru. Aku dan almarhum Risyad memiliki 2 orang anak, anak pertamaku bernama Andra. Dan anak keduaku bernama Aisha. Andra sekarang sudah berumur 24 tahun, sedangkan Aisha masih berumur 17 tahun. Saat ini Aisha sedang duduk di bangku kelas 3 di salah satu SMA Negeri di Jakarta. Namun Andra, tidak melanjutkan kuliahnya. Karena kekurangan biaya semenjak Ayah nya telah tiada. Saat ini, yang saya tau Andra tidak memiliki pekerjaan, setiap hari hanya pulang malam dan tidak pernah berbicara dengan saya. Dia seringkali langsung masuk kamar dan pagi-pagi sudah pergi entah kemana. Andra berubah semenjak Ayah nya meninggal. Anak keduaku, Aisha juga jarang berbicara denganku, mungkin karena memang kita tidak dekat. Saat ini kegiatannya hanya bersekolah dan pulang untuk nonton TV, atau pergi bersama teman-temannya. Aku sendiri tidak memiliki pekerjaan, aku hanyalah seorang ibu rumah tangga yang telah ditinggal oleh suamiku yang seorang pengusaha. Almarhum suami ku pernah ditipu orang hingga akhirnya keluarga ini menjadi berubah dalam bidang perekonomian.
Setiap hari aku selalu berdoa kepada Tuhan, agar anak-anakku kelak menjadi anak yang beriman, serta sukses dalam kehidupannya. Suatu ketika, Andra pulang dengan muka lusuh dan aku pun bertanya "Kamu sudah makan malam?" , dia hanya menggeleng dan aku langsung membawakan sepiring nasi serta lauk seadanya. Dia hanya bilang "Makasih Bu, Aisha mana ya?" dalam hatiku, Andra ini memang perhatian sekali sama adiknya, dia memang sayang dengan Aisha. Tapi tidak pernah bermain bersama, mungkin karena perbedaan umur yang cukup jauh. Aku pun menjawab "Ada di kamarnya, mungkin sudah tidur". "Ya udah Ibu tidur juga aja, nanti Andra yang cuci piring" , aku pun langsung masuk ke kamarku dan berusaha tidur walaupun belum mengantuk. Tak lama aku mendengar suara Andra sudah masuk ke kamarnya, dan terdengar seperti sedang menelpon. Aku dengar dia bilang "Baik pak, besok akan saya urus pekerjaan ini semua" , aku pun terhenyak. Aku bingung, apakah Andra sudah bekerja? Namun mengapa dia tidak pernah cerita? Aku akhirnya tertidur dengan sejumlah pertanyaan dalam otakku. Keesokan pagi nya, aku memberi Aisha sarapan dan dia segera berangkat sekolah. Aisha anak yang cukup mandiri, dia bisa berangkat sendiri naik angkutan umum. Setelah dia berangkat, aku langsung mengetuk kamar Andra untuk mengajak sarapan. Namun, dia tidak ada disana. Tapi ada selembar kertas bertuliskan "Bu, Andra pamit ke Jogja selama 1 bulan, Ibu jaga diri baik-baik ya, dan juga jaga Aisha", aku menangis membaca surat itu. Aku khawatir, apakah dia bisa hidup disana?
Ya, sampai saat ini aku belum mengetahui apa sebenarnya pekerjaan Andra itu. Lalu aku berusaha menelpon dia, tapi tidak diangkat. Mungkin dia sedang di pesawat. Sore hari pun tiba, dan Aisha pulang langsung menanyakan keberadaan Andra. "Bu, kakak dimana?" , aku hanya bisa jawab "Dia pergi tugas keluar kota, kamu gak usah khawatir, dia akan bawa uang untuk kita" , Aisha pun langsung masuk kamar. Mungkin dia berfikir apakah kakak nya akan sukses atau tidak.
Setelah 3 minggu lamanya, Andra tidak ada kabar sedikitpun. Lalu aku mulai kesal, karena dia tidak pernah angkat telpon ku, dan SMS ku juga tidak pernah dia balas. Aku pun menyuruh Aisha untuk menghubungi Andra, namun hasil nya juga nihil. Aku dan Aisha mulai khawatir, takut terjadi apa-apa dengan Andra. Lalu malam hari telepon rumahku berdering, rupanya dari pihak rumah sakit di Jogja. Aku mendapat berita bahwa Andra sedang kritis karena tabrakan dan sekarang kondisi nya koma. Aku di minta untuk kesana, namun aku tidak ada biaya untuk itu. Aku pun memanggil Aisha, dan kita berdua solat bersama dan berdoa untuk kesembuhan Andra. Tidak terasa air mataku menetes begitu banyak. Aku merasa gagal menjadi seorang Ibu, dimana harusnya aku beri perhatian kepada anakku, namun aku tidak bisa memberi itu semua kepada kedua anakku.
Pada keesokan harinya, aku mendapat kabar dari rumah sakit dan ternyata aku mendapat kabar yang begitu menusuk hatiku, bahwa anakku Andra telah meninggal dunia. Aku langsung meminjam uang dengan tetangga agar aku dan Aisha bisa segera berangkat ke Jogja. Setibanya disana, aku hanya melihat tubuh Andra penuh luka dan terbujur kaku. "Anakku, mengapa nasib kamu bisa begini?" aku terus menangis dan menggoyangkan badan Andra. Namun ternyata dia sudah benar-benar meninggal. Aisha terus memelukku dan berkata "Ibu harus ikhlas, kita harus bisa terima kenyataan ini semua", setelah mendengar kalimat itu, aku pun berusaha ikhlas dan duduk di kursi lobby rumah sakit. Aisha sedang membelikan aku makanan, karena memang sejak pagi aku belum makan. Tiba-tiba ada seorang lelaki muda datang menghampiriku. "Apakah ini Ibu Indah? Ibu dari Andra?" , aku langsung menjawab "Iya betul, adik ini siapa ya?" , "Begini Bu, sebelum terjadi kecelakaan, Andra menitipkan ini kepada saya, dia bilang amplop ini tolong ditaruh dikamarku, aku akan membawanya ke Jakarta minggu depan"
Aku langsung membuka amplop itu, dan disitu tertuliskan "Ibu, maafkan kalau Andra tidak pernah memberi kabar, karena Andra ingin memberi kejutan kepada Ibu, sebenarnya Andra sudah diterima kerja di salah 1 bidang pertambangan, dan proyek Andra baru berhasil. Ini cek untuk Ibu, bisa dicairkan kapanpun Ibu mau, oh iya itu sebagian untuk Aisha juga ya, agar nanti dia bisa kuliah, jangan sampai seperti Andra" Aku pun langsung membuka cek tersebut, dan tertulis nominal Rp. 500.000.000 ,- terbilang lima ratus juta rupiah. Aku lemas tak berdaya, ternyata Andra punya tujuan tertentu rupanya, aku benar-benar merasa sedih, sampai akhirnya Aisha datang dan membaca surat tersebut. Aisha hanya bilang "Kita harus sabar Bu, ini memang tidak mudah, rupanya Tuhan sudah merencanakan ini semua, ini yang terbaik untuk kita. Kita harus mengikhlaskan kepergian Kakak"
Terima kasih Anakku, Andra. Engkau adalah buah hatiku yang sangat aku cintai. Semoga engkau tenang berada di sisi Tuhan YME.
Peluk dan cium dari Ibu.
Karya : Aryanda Sasha Larasati
Setiap hari aku selalu berdoa kepada Tuhan, agar anak-anakku kelak menjadi anak yang beriman, serta sukses dalam kehidupannya. Suatu ketika, Andra pulang dengan muka lusuh dan aku pun bertanya "Kamu sudah makan malam?" , dia hanya menggeleng dan aku langsung membawakan sepiring nasi serta lauk seadanya. Dia hanya bilang "Makasih Bu, Aisha mana ya?" dalam hatiku, Andra ini memang perhatian sekali sama adiknya, dia memang sayang dengan Aisha. Tapi tidak pernah bermain bersama, mungkin karena perbedaan umur yang cukup jauh. Aku pun menjawab "Ada di kamarnya, mungkin sudah tidur". "Ya udah Ibu tidur juga aja, nanti Andra yang cuci piring" , aku pun langsung masuk ke kamarku dan berusaha tidur walaupun belum mengantuk. Tak lama aku mendengar suara Andra sudah masuk ke kamarnya, dan terdengar seperti sedang menelpon. Aku dengar dia bilang "Baik pak, besok akan saya urus pekerjaan ini semua" , aku pun terhenyak. Aku bingung, apakah Andra sudah bekerja? Namun mengapa dia tidak pernah cerita? Aku akhirnya tertidur dengan sejumlah pertanyaan dalam otakku. Keesokan pagi nya, aku memberi Aisha sarapan dan dia segera berangkat sekolah. Aisha anak yang cukup mandiri, dia bisa berangkat sendiri naik angkutan umum. Setelah dia berangkat, aku langsung mengetuk kamar Andra untuk mengajak sarapan. Namun, dia tidak ada disana. Tapi ada selembar kertas bertuliskan "Bu, Andra pamit ke Jogja selama 1 bulan, Ibu jaga diri baik-baik ya, dan juga jaga Aisha", aku menangis membaca surat itu. Aku khawatir, apakah dia bisa hidup disana?
Ya, sampai saat ini aku belum mengetahui apa sebenarnya pekerjaan Andra itu. Lalu aku berusaha menelpon dia, tapi tidak diangkat. Mungkin dia sedang di pesawat. Sore hari pun tiba, dan Aisha pulang langsung menanyakan keberadaan Andra. "Bu, kakak dimana?" , aku hanya bisa jawab "Dia pergi tugas keluar kota, kamu gak usah khawatir, dia akan bawa uang untuk kita" , Aisha pun langsung masuk kamar. Mungkin dia berfikir apakah kakak nya akan sukses atau tidak.
Setelah 3 minggu lamanya, Andra tidak ada kabar sedikitpun. Lalu aku mulai kesal, karena dia tidak pernah angkat telpon ku, dan SMS ku juga tidak pernah dia balas. Aku pun menyuruh Aisha untuk menghubungi Andra, namun hasil nya juga nihil. Aku dan Aisha mulai khawatir, takut terjadi apa-apa dengan Andra. Lalu malam hari telepon rumahku berdering, rupanya dari pihak rumah sakit di Jogja. Aku mendapat berita bahwa Andra sedang kritis karena tabrakan dan sekarang kondisi nya koma. Aku di minta untuk kesana, namun aku tidak ada biaya untuk itu. Aku pun memanggil Aisha, dan kita berdua solat bersama dan berdoa untuk kesembuhan Andra. Tidak terasa air mataku menetes begitu banyak. Aku merasa gagal menjadi seorang Ibu, dimana harusnya aku beri perhatian kepada anakku, namun aku tidak bisa memberi itu semua kepada kedua anakku.
Pada keesokan harinya, aku mendapat kabar dari rumah sakit dan ternyata aku mendapat kabar yang begitu menusuk hatiku, bahwa anakku Andra telah meninggal dunia. Aku langsung meminjam uang dengan tetangga agar aku dan Aisha bisa segera berangkat ke Jogja. Setibanya disana, aku hanya melihat tubuh Andra penuh luka dan terbujur kaku. "Anakku, mengapa nasib kamu bisa begini?" aku terus menangis dan menggoyangkan badan Andra. Namun ternyata dia sudah benar-benar meninggal. Aisha terus memelukku dan berkata "Ibu harus ikhlas, kita harus bisa terima kenyataan ini semua", setelah mendengar kalimat itu, aku pun berusaha ikhlas dan duduk di kursi lobby rumah sakit. Aisha sedang membelikan aku makanan, karena memang sejak pagi aku belum makan. Tiba-tiba ada seorang lelaki muda datang menghampiriku. "Apakah ini Ibu Indah? Ibu dari Andra?" , aku langsung menjawab "Iya betul, adik ini siapa ya?" , "Begini Bu, sebelum terjadi kecelakaan, Andra menitipkan ini kepada saya, dia bilang amplop ini tolong ditaruh dikamarku, aku akan membawanya ke Jakarta minggu depan"
Aku langsung membuka amplop itu, dan disitu tertuliskan "Ibu, maafkan kalau Andra tidak pernah memberi kabar, karena Andra ingin memberi kejutan kepada Ibu, sebenarnya Andra sudah diterima kerja di salah 1 bidang pertambangan, dan proyek Andra baru berhasil. Ini cek untuk Ibu, bisa dicairkan kapanpun Ibu mau, oh iya itu sebagian untuk Aisha juga ya, agar nanti dia bisa kuliah, jangan sampai seperti Andra" Aku pun langsung membuka cek tersebut, dan tertulis nominal Rp. 500.000.000 ,- terbilang lima ratus juta rupiah. Aku lemas tak berdaya, ternyata Andra punya tujuan tertentu rupanya, aku benar-benar merasa sedih, sampai akhirnya Aisha datang dan membaca surat tersebut. Aisha hanya bilang "Kita harus sabar Bu, ini memang tidak mudah, rupanya Tuhan sudah merencanakan ini semua, ini yang terbaik untuk kita. Kita harus mengikhlaskan kepergian Kakak"
Terima kasih Anakku, Andra. Engkau adalah buah hatiku yang sangat aku cintai. Semoga engkau tenang berada di sisi Tuhan YME.
Peluk dan cium dari Ibu.
Karya : Aryanda Sasha Larasati
Kamis, 13 Oktober 2011
Rabu, 12 Oktober 2011
Reo & July
Reo dan July adalah sepasang kekasih yang serasi walaupun keduanya berasal dari keluarga yang jauh berbeda latar belakangnya. Keluarga July berasal dari keluarga kaya raya dan serba berkecukupan, sedangkan keluarga Reo hanyalah keluarga seorang petani miskin yang menggantungkan kehidupannya pada tanah sewaan.
Dalam kehidupan mereka berdua, Reo sangat mencintai July. Reo telah melipat 1000 buah burung kertas untuk July dan July kemudian menggantungkan burung-burung kertas tersebut pada kamarnya. Dalam tiap burung kertas tersebut Reo telah menuliskan harapannya kepada July. Banyak sekali harapan yang telah Reo ungkapkan kepada July. “Semoga kita selalu saling mengasihi satu sama lain”,”Semoga Tuhan melindungi July dari bahaya”,”Semoga kita mendapatkan kehidupan yang bahagia”,dsb. Semua harapan itu telah disimbolkan dalam burung kertas yang diberikan kepada July.
Suatu hari Reo melipat burung kertasnya yang ke 1001. Burung itu dilipat dengan kertas transparan sehingga kelihatan sangat berbeda dengan burung-burung kertas yang lain. Ketika memberikan burung kertas ini, Reo berkata kepada July: “ July, ini burung kertasku yang ke 1001. Dalam burung kertas ini aku mengharapkan adanya kejujuran dan keterbukaan antara aku dan kamu. Aku akan segera melamarmu dan kita akan segera menikah. Semoga kita dapat mencintai sampai kita menjadi kakek nenek dan sampai Tuhan memanggil kita berdua ! “
Saat mendengar Reo berkata demikian, menangislah July. Ia berkata kepada Reo : “Reo, senang sekali aku mendengar semua itu, tetapi aku sekarang telah memutuskan untuk tidak menikah denganmu karena aku butuh uang dan kekayaan seperti kata orang tuaku!” Saat mendengar itu Reo pun bak disambar geledek. Ia kemudian mulai marah kepada July. Ia mengatai July matre, orang tak berperasaan, kejam, dan sebagainya. Akhirnya Reo meninggalkan July menangis seorang diri.
Reo mulai terbakar semangatnya. Ia pun bertekad dalam dirinya bahwa ia harus sukses dan hidup berhasil. Sikap July dijadikannya cambuk untuk maju dan maju. Dalam Sebulan usaha Reo menunjukkan hasilnya. Ia diangkat menjadi kepala cabang di mana ia bekerja dan dalam setahun ia telah diangkat menjadi manajer sebuah perusahaan yang bonafide dan tak lama kemudian ia mempunyai 50% saham dari perusahaan itu. Sekarang tak seorangpun tak kenal Reo, ia adalah bintang kesuksesan.
Suatu hari Reo pun berkelilingkotadengan mobil barunya. Tiba-tiba dilihatnya sepasang suami-istri tua tengah berjalan di dalam derasnya hujan. Suami istri itu kelihatan lusuh dan tidak terawat. Reo pun penasaran dan mendekati suami istri itu dengan mobilnya dan ia mendapati bahwa suami istri itu adalah orang tua July. Reo mulai berpikir untuk memberi pelajaran kepada kedua orang itu, tetapi hati nuraninya melarangnya sangat kuat. Reo membatalkan niatnya dan ia membuntuti kemana perginya orang tua July.
Reo sangat terkejut ketika didapati orang tua July memasuki sebuah makam yang dipenuhi dengan burung kertas. Ia pun semakin terkejut ketika ia mendapati foto July dalam makam itu. Reo pun bergegas turun dari mobilnya dan berlari ke arah makam July untuk menemui orang tua July.
Orang tua July pun berkata kepada Reo :”Reo, sekarang kami jatuh miskin. Harta kami habis untuk biaya pengobatan July yang terkena kanker rahim ganas. July menitipkan sebuahsuratkepada kami untuk diberikan kepadamu jika kami bertemu denganmu.” Orang tua July menyerahkan sepucuksuratkumal kepada Reo.
Reo membacasuratitu. “Reo, maafkan aku. Aku terpaksa membohongimu. Aku terkena kanker rahim ganas yang tak mungkin disembuhkan. Aku tak mungkin mengatakan hal ini saat itu, karena jika itu aku lakukan, aku akan membuatmu jatuh dalam kehidupan sentimentil yang penuh keputusasaan yang akan membawa hidupmu pada kehancuran. Aku tahu semua tabiatmu Reo, karena itu aku lakukan ini. Aku mencintaimu
Reo................................
July “ Setelah membacasuratitu, menangislah Reo. Ia telah berprasangka terhadap July begitu kejamnya. Ia pun mulai merasakan betapa hati July teriris-iris ketika ia mencemoohnya, mengatainya matre, kejam dan tak berperasaan. Ia merasakan betapa July kesepian seorang diri dalam kesakitannya hingga maut menjemputnya, betapa July mengharapkan kehadirannya di saat-saat penuh penderitaan itu. Tetapi ia lebih
memilih untuk menganggap July sebagai orang matre tak berperasan.July telah
berkorban untuknya agar ia tidak jatuh dalam keputusasaan dan kehancuran.
Cinta bukanlah sebuah pelukan atau ciuman tetapi cinta adalah pengorbanan untuk orang yang sangat berarti bagi kita.
Dalam kehidupan mereka berdua, Reo sangat mencintai July. Reo telah melipat 1000 buah burung kertas untuk July dan July kemudian menggantungkan burung-burung kertas tersebut pada kamarnya. Dalam tiap burung kertas tersebut Reo telah menuliskan harapannya kepada July. Banyak sekali harapan yang telah Reo ungkapkan kepada July. “Semoga kita selalu saling mengasihi satu sama lain”,”Semoga Tuhan melindungi July dari bahaya”,”Semoga kita mendapatkan kehidupan yang bahagia”,dsb. Semua harapan itu telah disimbolkan dalam burung kertas yang diberikan kepada July.
Suatu hari Reo melipat burung kertasnya yang ke 1001. Burung itu dilipat dengan kertas transparan sehingga kelihatan sangat berbeda dengan burung-burung kertas yang lain. Ketika memberikan burung kertas ini, Reo berkata kepada July: “ July, ini burung kertasku yang ke 1001. Dalam burung kertas ini aku mengharapkan adanya kejujuran dan keterbukaan antara aku dan kamu. Aku akan segera melamarmu dan kita akan segera menikah. Semoga kita dapat mencintai sampai kita menjadi kakek nenek dan sampai Tuhan memanggil kita berdua ! “
Saat mendengar Reo berkata demikian, menangislah July. Ia berkata kepada Reo : “Reo, senang sekali aku mendengar semua itu, tetapi aku sekarang telah memutuskan untuk tidak menikah denganmu karena aku butuh uang dan kekayaan seperti kata orang tuaku!” Saat mendengar itu Reo pun bak disambar geledek. Ia kemudian mulai marah kepada July. Ia mengatai July matre, orang tak berperasaan, kejam, dan sebagainya. Akhirnya Reo meninggalkan July menangis seorang diri.
Reo mulai terbakar semangatnya. Ia pun bertekad dalam dirinya bahwa ia harus sukses dan hidup berhasil. Sikap July dijadikannya cambuk untuk maju dan maju. Dalam Sebulan usaha Reo menunjukkan hasilnya. Ia diangkat menjadi kepala cabang di mana ia bekerja dan dalam setahun ia telah diangkat menjadi manajer sebuah perusahaan yang bonafide dan tak lama kemudian ia mempunyai 50% saham dari perusahaan itu. Sekarang tak seorangpun tak kenal Reo, ia adalah bintang kesuksesan.
Suatu hari Reo pun berkelilingkotadengan mobil barunya. Tiba-tiba dilihatnya sepasang suami-istri tua tengah berjalan di dalam derasnya hujan. Suami istri itu kelihatan lusuh dan tidak terawat. Reo pun penasaran dan mendekati suami istri itu dengan mobilnya dan ia mendapati bahwa suami istri itu adalah orang tua July. Reo mulai berpikir untuk memberi pelajaran kepada kedua orang itu, tetapi hati nuraninya melarangnya sangat kuat. Reo membatalkan niatnya dan ia membuntuti kemana perginya orang tua July.
Reo sangat terkejut ketika didapati orang tua July memasuki sebuah makam yang dipenuhi dengan burung kertas. Ia pun semakin terkejut ketika ia mendapati foto July dalam makam itu. Reo pun bergegas turun dari mobilnya dan berlari ke arah makam July untuk menemui orang tua July.
Orang tua July pun berkata kepada Reo :”Reo, sekarang kami jatuh miskin. Harta kami habis untuk biaya pengobatan July yang terkena kanker rahim ganas. July menitipkan sebuahsuratkepada kami untuk diberikan kepadamu jika kami bertemu denganmu.” Orang tua July menyerahkan sepucuksuratkumal kepada Reo.
Reo membacasuratitu. “Reo, maafkan aku. Aku terpaksa membohongimu. Aku terkena kanker rahim ganas yang tak mungkin disembuhkan. Aku tak mungkin mengatakan hal ini saat itu, karena jika itu aku lakukan, aku akan membuatmu jatuh dalam kehidupan sentimentil yang penuh keputusasaan yang akan membawa hidupmu pada kehancuran. Aku tahu semua tabiatmu Reo, karena itu aku lakukan ini. Aku mencintaimu
Reo................................
July “ Setelah membacasuratitu, menangislah Reo. Ia telah berprasangka terhadap July begitu kejamnya. Ia pun mulai merasakan betapa hati July teriris-iris ketika ia mencemoohnya, mengatainya matre, kejam dan tak berperasaan. Ia merasakan betapa July kesepian seorang diri dalam kesakitannya hingga maut menjemputnya, betapa July mengharapkan kehadirannya di saat-saat penuh penderitaan itu. Tetapi ia lebih
memilih untuk menganggap July sebagai orang matre tak berperasan.July telah
berkorban untuknya agar ia tidak jatuh dalam keputusasaan dan kehancuran.
Cinta bukanlah sebuah pelukan atau ciuman tetapi cinta adalah pengorbanan untuk orang yang sangat berarti bagi kita.
di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu satunya. Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam dan banyak lagi. Ibu itu sring menangis meratapi nasibnya yang malang. Namun ia sering berdo'a memohon kepada Tuhan.
"Tuhan tolong sadarkan anaku yang kusayangi, supaya tidak berbuat dosa lagi. Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati." Namun, semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya, sudah sangat sering ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya. suatu hari ia kembali mencuri di rumah penduduk desa, namun malang dia tertangkap. Kemudian dia dibawa ke hadapan raja untuk diadili dan djatuhi hukuman pancung. Pengumuman itu di umumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan keesokan hari di depan rakyat desa dan tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi. Berita hukuman itu sampai ke telinga si ibu. Dia menangis meratapi anak yang dikasihinya dan berdoa berlutut kepada Tuhan, "Tuhan ampuni anak hamba, biarlah hamba yg sudah tua ini yang menanggung dosanya."
Dengan tertatih-tatih dia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan. Tapi keputusan sudah bulat, anaknya harus menjalani hukuman. Dengan hati hancur, ibu itu kembali ke rumah. Tidak berhenti ia berdoa supaya anaknya diampuni, dan akhirnya dia tertidur karena kelelahan. Dan dalam mimpinya dia bertemu dengan Tuhan.
Keesokan harinya, di tempat yg sudah ditetepkan, rakyat berbondong-bondong menyaksikan hukuman tersebut. Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan anak tersebut sudah pasrah dengan nasibnya. Trbayang di matanya wajah ibunya yg sudah tua, dan tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya.
Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Sampai waktu yg di tentukan tiba, lonceng belum juga berdentang. Sudah lewat lima menit dan suasana mulai berisik, akhirnya petugas yg membunyikan lonceng datang. Ia engaku heran kerena sudah sejak tadi dia manerik tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada.
Saat mereka semua sedang bingung, tiba tiba dari tali lonceng itu mengalir darah. Darah itu berasal dari atas tempat dimana lonceng itu diikat. Dengan jantung berdebar debar seluruh rakyat menantikan saat beberapa orangnaik ke atas untuk menyelidiki sumber darah.
TAHUKAH ANDA APA YANG TERJADI?
Ternyata di dalam lonceng di temui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk bandul lonceng yg menyebabkan lonceng tidak berbunyi, dan sebagai gantinya, kepalanya yg terbentur di dinding lonceng.
Seluruhorang yg menyaksikan kejadian itu tertunduk dan menetes kan air mata. Sementara itu sang anak meraung raung memeluk tubuh ibunya yg sudah di turunkan, menyesali dirinya yg selalu menyusahkan ibu.
Ternyata malam sebelumnya si ibu susah payah memanjat ke atas dan mengikatkan dirinya di lonceng, memeluk bandul dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya.
"Tuhan tolong sadarkan anaku yang kusayangi, supaya tidak berbuat dosa lagi. Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati." Namun, semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya, sudah sangat sering ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya. suatu hari ia kembali mencuri di rumah penduduk desa, namun malang dia tertangkap. Kemudian dia dibawa ke hadapan raja untuk diadili dan djatuhi hukuman pancung. Pengumuman itu di umumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan keesokan hari di depan rakyat desa dan tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi. Berita hukuman itu sampai ke telinga si ibu. Dia menangis meratapi anak yang dikasihinya dan berdoa berlutut kepada Tuhan, "Tuhan ampuni anak hamba, biarlah hamba yg sudah tua ini yang menanggung dosanya."
Dengan tertatih-tatih dia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan. Tapi keputusan sudah bulat, anaknya harus menjalani hukuman. Dengan hati hancur, ibu itu kembali ke rumah. Tidak berhenti ia berdoa supaya anaknya diampuni, dan akhirnya dia tertidur karena kelelahan. Dan dalam mimpinya dia bertemu dengan Tuhan.
Keesokan harinya, di tempat yg sudah ditetepkan, rakyat berbondong-bondong menyaksikan hukuman tersebut. Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan anak tersebut sudah pasrah dengan nasibnya. Trbayang di matanya wajah ibunya yg sudah tua, dan tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya.
Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Sampai waktu yg di tentukan tiba, lonceng belum juga berdentang. Sudah lewat lima menit dan suasana mulai berisik, akhirnya petugas yg membunyikan lonceng datang. Ia engaku heran kerena sudah sejak tadi dia manerik tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada.
Saat mereka semua sedang bingung, tiba tiba dari tali lonceng itu mengalir darah. Darah itu berasal dari atas tempat dimana lonceng itu diikat. Dengan jantung berdebar debar seluruh rakyat menantikan saat beberapa orangnaik ke atas untuk menyelidiki sumber darah.
TAHUKAH ANDA APA YANG TERJADI?
Ternyata di dalam lonceng di temui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk bandul lonceng yg menyebabkan lonceng tidak berbunyi, dan sebagai gantinya, kepalanya yg terbentur di dinding lonceng.
Seluruhorang yg menyaksikan kejadian itu tertunduk dan menetes kan air mata. Sementara itu sang anak meraung raung memeluk tubuh ibunya yg sudah di turunkan, menyesali dirinya yg selalu menyusahkan ibu.
Ternyata malam sebelumnya si ibu susah payah memanjat ke atas dan mengikatkan dirinya di lonceng, memeluk bandul dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya.
Langganan:
Postingan (Atom)



